Thursday, September 11, 2008

Makna Simbolik pada Padmasana

Makna Simbolik pada Padmasana
Oleh IB Heri J

TUHAN Yang Maha Esa (Tunggal) atau Hyang Widhi Wasa dipuja oleh umat Hindu melalui beberapa media bangunan suci yang disebut tempat ibadah seperti; Kuil, Candi, Miru, Sanggah ( merajan ) dan "Padmasana." Padmasana adalah bangunan suci dalam pura untuk tempat sembahyang kepada Tuhan Yang Esa dalam aspeknya sebagai Siwa. Dalam tulisan ini akan dijelaskan beberapa makna simbolik pada bangunan Padmasana.

Untuk mengetahui makna simbolik dari Padmasana ini, kita meneliti satu persatu hiasan lukisan yang ada pada bangunan padmasana. Kata Padmasana berasal dari kata Padma artinya bungai teratai dan asana artinya sikap duduk, dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata Padmasana berarti; tahta, singgasana, kursi kerajaan. Jadi Padmasana tempat duduk yang menyerupai kursi dari bunga teratai. Mengapa dari bunga teratai? Menurut konsep ajaran Hindu bunga teratai memiliki beberapa keistimewaan antara lain pertama; daun bunga teratai hampir selalu terdiri delapan lembar, tepat sekali dipergunakan sibagai simbol Astaiswarya (delapan dewa yang menguasai delapan penjuru mata angin). Kedua, bunga teratai bentuk mahkotanya berbentuk bulat merupakan simbol Siwa. Ketiga, bunga teratai tumbuh dan berkembang di atas air dengan akarnya didalam lumpur dan bunganya di udara, bunga teratai hidup dalam tiga lapisan yaitu lapisan lumpur, lapisan air, dan lapisan udara. Keempat, bunga padma juga disebut pangkaja yang artinya lahir atau tumbuh dari dalam lumpur. Jadi bunga padma adalah bunga yang bersifat magis yang selalu dikaitkan dengan linggih atau stana Hyang Widhi serta merupakan bunga yang dianggap mempunyai kesucian yang lebih dari bunga yang lain. Bungai teratai ada yang serumpun seperti; bunga kumuda (tunjung) dan Utpala yaitu tunjung yang jenis lebih kecil yang juga mempunyai macam-macam warna dan yang terkenal adalah tunjung biru (nilautpala). Namun jenis bunga tunjung ini jumlah daunnya lebih dari delapan, dan mahkotanya tidak bulat.

Padmasana dalam pengertian umum di masyarakat menyebutkan adalah sebuah bangunan yang puncaknya berbentuk kursi dan dibelakangnya berisi lukisan burung angsa, burung Garuda, di tengah-tengah bangunan pada setiap sudut ada patung astadikpalaka ( dewa penguasa delapan penjuru mata angin ), serta dasar bangunan memakai lukisan badawangnala dililit oleh dua ekor naga. Bangunan Padmasana yang lengkap di kelilingi oleh kolam sebagai simbol laut Ksira Arnawa, Padmasana simbol gunung Mandara ( baca Bab V Adiparwa).

Lukisan burung Garuda yang menghiasi belakang bangunan Padmasana memiliki makna pertama ; burung Garuda adalah burung yang perkasa di antara jenis burung dan telah berjasa menyelamatkan Amerta (A artinya tidak, mert artinya mati. Amertha adalah air suci kehidupan) dari kekuasaan para raksasa pada waktu pemutaran gunung Mandara di laut Ksirarnawa . Oleh karena itu kalimat yang tepat diucapkan pada saat selesai sembahyang adalah mohon Amerta ( hidup) bukan mohon Merta ( mati). Kedua, burung Garuda berhasil membebaskan keterikatan / perbudayaan duniawi ibunya. (baca Bab V Adiparwa). Ketiga, Burung Garuda merupakan kendaraan (wahana) Dewa Wisnu aspek Tuhan sebagai pemelihara dan penegak kebenaran (Dharma).

Lukisan Angsa dibelakang Padmasana memiliki simbolik, pertama, burung angsa adalah kendaraan (wahana ) Dewi Saraswati, sakti Dewa Brahma aspek Tuhan sebagai Pencipta alam semesta beserta segala isinya. Kedua, angsa simbolik dari ketenangan, warna bulunya yang putih simbol kebersihan dan kesucian. Ketiga,burung angsa dalam memilih makanan penuh dengan ketelitian, walaupun mulutnya masuk ke lumpur yang busuk, tetapi bukan lumpur yang dimakan, melainkan hanya makanan yang patut menjadi makanan yang masuk kemulutnya, sebab itu angsa simbolik kebijaksanaan memilih. Keempat, burung angsa simbol kewaspadaan yang tinggi, karena baik siang ataupun malam seolah-olah tidak pernah tidur. Karena angsa memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi, maka sering kita melihat seseorang disamping atau di depan rumahnya memelihara angsa dipakai sebagai penjaga rumah. Kalau ada seseorang masuk ke halaman rumah lebih-lebih malam hari angsa itu tentu berbunyi ribut.

Astadikpalaka adalah adalah arca dewa yang menguasai delapan penjuru arah mata angin biasanya ditempatkan di madya (tengah-tengah) bangunan Padmasana. Adapun arca Astadikpalaka itu antara lain : 1) Iswara berkedudukan di Timur dengan busana warna putih senjata Bajra. 2) Mahesora berkedudukan di tenggara busana dadu (merah muda) senjata Dupa. 3) Brahma di Selatan warna busana merah senjata Gada. 4) Rudra di Barat daya warna Jingga senjata Moksala. 5) Mahadewa di Barat warna kuning senjata Nagapasa. 6) Sangkara di Barat Laut warna hijau senjata Angkus. 7) Wisnu di Utara warna hitam senjata cakra dan 8) Sambhu di timur laut warna biru senjata Trisula.Sebagai titik sentralnya adalah Siwa di tengah warna Panca warna senjata Padma.

Makna Simbolik pada Padmasana (Bagian 2)
SEBAGAIMANA pada bagian 1 tulisan ini telah disebutkan bahwa di belakang bangunan padmasana ada lukisan burung Garuda dan angsa, dan pada bagian dasarnya ada lukisan Naga yang melilit bedawangnala (lukisan kura-kura bermoncong api) kadang-kadang dilukiskan satu ekor dan ada juga dua ekor naga, dan bahkan sering pula kita melihat pada bagian atas singhasana yang berujud kursi, dimana pada dinding samping kursinya digambarkan berupa dua ekor naga Taksaka bersayap (simbol udara). Bedawangnala adalah simbol panas / api di dalam bumi, ilmu pengetahuan modern menyebutnya dengan nama magma.


Sumber Siwagama dan Sri Purana Tattwa ada disebutkan bahwa setelah bumi diciptakan oleh Tuhan lengkap dengan manusia dan segala isinya, maka pada suatu saat terjadi bencana, dimana tumbuh-tumbuhan mati, air tercemar dan tidak berkasiat, udara yang dihidup oleh mahluk hidup mengandung penyakit, maka Sanghyang Trimurti turun kedunia menyelamatkan manusia. Brahma masuk kedalam perut bumi menjadi Naga Anantabhoga, Wisnu terjun ke samudra menjadi naga Basuki serta Iswara terbang ke udara menjadi naga Taksaka. Adapun tugas masing-masing adalah menyelaraskan dan mengharmoniskan unsur-unsur tanah ( bumi), air dan udara. Simbolik dari cerita itu dapat disimpulkan bahwa bedawangnala atau magma itu dibungkus atau dililit oleh Anantabhoga yaitu kulit bumi, oleh naga Basuki yaitu samudra dan sungai-sungainya serta oleh naga Taksaka yaitu udara. Bilamana unsur-unsur pembentuk alam semesta (makrokosmos) dan badan manusia (mikrokosmos) seperti air, panas, bumi (zat padat), udara dan ether berjalan sesuai dengan hukum alam atau Rta, maka dapat dipastikan kehidupan mahluk dan segala isinya di muka bumi menjadi harmonis. Hubungan manusia dengan Tuhan di bumi diwujudkan dengan membuat Parhyangan (tempat suci) untuk memohon kemakmuran dan kesejahteraan.

Padmasana sebagai bangunan yang suci sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia bahkan bangunan itu dipandang bukan saja benda mati, melainkan sebagai benda yang memiliki kekuatan spiritual, karena di dalam bangunan itu telah diisi dengan sarana upacara yang disebut Panca Dhatu. Panca Dhatu adalah lima jenis unsur-unsur logam (Panca dhatu) yaitu: emas, perak, tembaga, timah dan besi. Kelima unsur logam ini dipakai sebagai sarana upacara yang dipergunakan untuk membuat upacara pedagingan atau sarana upacara untuk menghadirkan kekuatan spiritual pada bangunan. Sehingga bangunan tersebut memiliki daya hidup/kekuatan spiritual yang dapat memberikan pengaruh kejiwaan terhadap yang umat Hindu.

Selain mengandung simbol mistis, Panca Dhatu juga terkandung sebuah penerapan pengetahuan ilmiah yang bersifat teknis teologis yaitu sebagai penangkal petir. Alasan logisnya adalah Padmasana merupakan bangunan yang paling tinggi di antara bangunan lainnya, dengan demikian mempunyai kemungkinan yang paling besar untuk disambar petir. Sehubungan dengan itu, maka diperlukan pengamanan yang berupa instalasi penangkal petir. Hal ini sangat penting menyangkut keamanan, kenyamanan dan keselamatan umat dalam melakukan sembahyang. Pemasangan instalasi penangkal petir bukan berarti tidak akan disambar petir, petir tetap saja akan menyambar, namun sambaran kilat itu akan segera disalurkan ke tanah, sehingga listrik alam yang bermuatan tinggi itu segera dapat dinetralkan dalam tanah, sehingga bangunan dan segala isinya menjadi terlindung.

Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan Padmasana dilakukan pertama kali oleh Rsi Markandeya (Rsi sebutan orang suci Hindu) yaitu dengan menanam Panca Dhatu (lima jenis logam) pada tempat dimana Pura Besakih sekarang berdiri. Pedagingan Panca Dhatu pada Padmasana yang berukuran besar ditanam secara vertikal yaitu dasar, tengah dan puncak. Menurut Adri (1968) sebagaimana yang dikutip oleh Donder (2001 : 97-98) menyebutkan pedagingan pada Puncak bangunan seperti Meru, Padmasana dan Sanggar Agung terdiri dari : 1) Sampian emas (padma emas) atau slaka

Sumber

1 comment:

Girimata said...

wah saya sangat senang dengan adanya blog ini, saya juga keluarga besar Bhujangga Waisnawa dari Br. Yehoh Ds Manggis