Bhujangga Waisnawa merupakan salah satu golongan yang ada di bali, yaitu Siwa, Budha dan Bhujangga.
Wednesday, March 11, 2009
Aneka Mamtram
Doa / Mantra Sehari-hari
Pada waktu bangun pagi: Om, Utedanim bhagavantah syamota prapitva uta madhye ahnam, utodinau madhvantan tsuryasya vayam devanam sumantausyama.(Atharva Veda III.16.4) "Ya Tuhan Yang Maha Pemurah! Jadikanlah kami selalu bernasib baik pada pagi hari ini, menjelang tengah hari, apalagi matahari tepat di tengah-tengah dan seterusnya. Semoga para Dewa berkenaan menganugharkan rakhmat-Nya kepada kami".
Menggosok gigi Om Cri Dewi Bhatrimsa Yogini namah Om, sujud pada (sakti-Mu) Cri Dewi Bhatrimsa (dan) Yogini.
Membersihkan mulut: Om Um Phat astraya namah. Om, sujud kepada Um, astra Phat (itu).
Mencuci muka: Om Um Waktra Paricuddha mam swaha. Om, Om (dewi) membersihkan muka hamba.
Pada waktu mandi: Om, Gangga-Amrta-Sarira Cuddha Mam Swaha. Om, Amrta dari Gangga, membuat badan hamba suci.
Pada waktu berpakaian: Kaupina Brahma-Samyuktah, mekhala Wisnu-Samsmrtah Antarwasewaro dewah, bandham astu Sada Ciwa. Penutup berpakaian adalah Brahma, pengikat pinggang (adalah) Wisnu, penutup tubuh (oleh) Iswara (dan) Sada Ciwa pengikat semuanya.
Pada waktu makan:
1) Menjelang makan: Om Hiranyagarbhah samavartatagre bhutasya jatah patikreka asit, sa dadhara prithivim dyam utema kasmai devaya havisa vidhema. Ya Tuhan Yang Maha Pengasih! Engkau asal alam semesta dan satu-satunya kekuatan awal, Engkau yang memelihara semua mahluk, seluruh bumi dan langit. Kami memuja Engkau.
2) Sesudah makan: Om Purnamadah purnamidam Purnat murnam adaya purnasya purnam adaya purnam evavasisyate. Ya Tuhan Yang Maha Sempurna! Yang membuat alam sempurna. Alam ini akan lenyap dalam kesempurnaanMu. Engkau adalah kekal. Kami mendapat makanan yang cukup dan atas anugrah-Mu kami menghaturkan terima kasih.
Sebelum memulai pekerjaan atau kegiatan: Om Avighnam astu namasiddham. Ya Tuhan semoga tiada halngan dan berhasil.
Mohon perlindungan: Om Apasyam gopam anipadyamanam a ca para ca prthibhih carantam sa sadhricih sa visucir vasana. Ya Tuhan! hamba memandang Engkau Maha Pelindung, yang terus bergerak tanpa berhenti, maju dan mundur di atas bumi. Ia yang mengenakan hiasan yang serba meriah, muncul dan mengembara terus bersama bumi ini.
Mohon kebenaran (jalan yang benar): Om A visvadevam satpatim suktai adya vrnimahe stayasavam sawitaram. Ya Tuhan Yang Maha Agung! dengan kidung kami memujaMu, Tuhan sumber kebaikan! Engkau Maha Cemerlang yang memiliki takdir yang maha benar.
Salam Penganjali
(salam penghormatan) : Om Svastyastu. Semoga selalu ada dalam keadaan baik (selamat) atas karunia Tuhan (Hyang Widhi Wasa).
Salam Penganjali
(salam penghormatan) : Om santhi, Santhi, Santhi, Om. Semoga damai, damai di dunia, damai di akhirat dan damai selalu.
Doa Menjelang makan Om Ang kang kasol kaya isana ya namah, svasti-svasti sarva deva bhuta sukha, pradhana purusa sang yoga ya namah. Ya Hyang Widhi, yang bergelar Isana, hamba persembahkan seluruh makanan ini kehadapan-Mu, semoga semua makhluk berbahagia.
Doa Mulai Makan Om Anugraha Amertadi sanjivani ya namah svaha. Ya Hyang Widhi, semoga makanan ini menjadi penghidupan hamba lahir bathin yang suci.
Doa Selesai Makan Om Dhirgayur astu, avighnam astu subham astu Om Sriyam bhavantu, purnam bhavantu, ksama sampurna ya namah svaha. Ya Hyang Widhi, semoga makanan yang telah masuk ke dalam badan hamba memberi kekuatan, keselamatan, panjang umur dan tak kena halngan apapun. Demikian pula agar hamba mendapatkan kebahagiaan dan suka cita dengan sempurna.
Doa Selesai Makan
Dapat pula menggunakan doa (mantra) berikut: Om Annapate annasya no dehyanmi vasya susminah, pra-pra dataram taris urjam no dhehi dvipade catuspade.
(Yajur Veda XI.83) Ya Hyang Widhi, Engkau penguasa makanan, anugrahkanlah makanan ini memberikan kekuatan, menjauhkan dari penyakit. Selanjutnya bimbinglah kami, anugrahkanlah kekuatan kepada mahluk berkaki empat dan dua.
Doa saat melakukan Yadnya Sesa (Ngejot) : "Om Sarva bhuta sukha pretebhyah svaha". Ya Hyang Widhi, hamba berikan sedikit kepada sarwa bhuta agar tidak mengacau.
Doa Memulai Sesuatu Kegiatan: Om Avighnam astu namo sidham Om Sidhirastu tad astu astu svaha. Ya Hyang Widhi, semoga atas perkenan-Mu tiada suatu halangan bagi kami memulai pekerjaan (kegiatan) ini dan semoga sukses.
Doa Mohon Inspirasi : Om Pra no devi sarasvati vajebhir vajinivati dhinam avinyavantu.
(Rg Veda VI.61.4) Ya Hyang Widhi, Hyang Saraswati Yang Maha Agung dan Kuasa, Engkau sebagai sumber ilmu pengetahuan, semoga Engkau memelihara kecerdasan kami.
Doa Memohon Kesehatan : Om Vata a vatu bhesajam sambhu majobhu no hrde, pra na ayumsi tarisat.
(Rg Veda X.1986.1) Ya hyang Widhi, semoga Wayu menghembuskan angin sejuk-Nya kepada kami. Wayu yang memberikan kesehatan dan kesejahteraan kepada kami. Semoga Ia memberikan umur panjang kepada kami.
Doa Mohon Bimbingan Spiritual : Om Asato ma sadgamaya tamasoma ma tyotir gamaya mrtor ma amrtam gamaya.
(Brh. Ar. Up. XL.15) Ya Hyang Widhi, bimbinglah kami dari yang tidak benar menuju yang benar. Bimbinglah kami dari kegelapan pikiran menuju cahaya (pengetahuan) yang terang. Bimbinglah kami dari kematian menuju kehidupan yang abadi.
Doa Mohon Kebahagiaan dan Keberuntungan : Om sarve bhavantu sukhinah sarve santu niramayah sarve bhadrani pasyantu ma kascid duhkha bhag bhavet Ya Hyang Widhi, semoga semuanya memperoleh kebahagiaan, semoga semuanya terbebas dari penderitaan, semoga semuanya dapat memperoleh keberuntungan, semoga tiada kedukaan.
Doa Memulai Belajar : Om Agne naya supatha raye asman visvani deva vayunani vidvan, yuyodhyasmaj juhuranam eno bhuyistam te namauktim vidhema.
(Rg Veda I.189.1) Ya Hyang Widhi (Hyang Agni), tunjukkanlah kepada kami jalan yang benar untuk mencapai kesejahteraan; Hyang Widhi yang mengetahui semua kewajiban, lenyapkanlah dosa kami yang menyengsarakan kami. kami memuja Engkau.
Doa Menghilangkan Rasa Takut : Om Om Jaya jivad sarira raksan dadasi me, Om Mjum sah vaosat mrityun jaya namah svaha. Ya Hyang Widhi Yang Maha Jaya, yang mengatasi segala kematian, kami memuja-Mu. Lindungilah kami dari mara bahaya.
Doa Selesai Melakukan Kegiatan: Om Deva suksma parama acintya ya namah svaha sarva karya prasidhantam. Om Shanti, Shanti, Shanti, Om. Ya Hyang Widhi dalam wujud Parama Acintya yang maha gaib dan maka karya, atas rakhmat-Mu maka pekerjaan ini sukses. Semoga damai selalu.
Doa Sebelum Tidur: Om Yajjagrato duram udaiti daivam tad u suptasya tatha iva iti, durangamam jyotisam jyotir ekam tanme manah siva samkalpam astu.
(Yajur Veda XXXIV.1) Ya hyang Widhi, Engkau nampak jauh dari orang yang tidur, nampak jauh dari orang yang terjaga. Engkau sinar utama, yang nampak jauh itu, semoga pikiran kami senantiasa mengarah kepada Engkau, yang baik itu.
Doa Untuk Ketabahan Hidup: Om Krdhi na udhvarny carathaya jivase. Ya Hyang Widhi, semoga kami bisa tetap tegak dalam perjalanan hidup kami.
Doa Untuk Orang Meninggal
(yang disampaikan/diucapkan saat bela sungkawa): Om vayur anilam amrtam athedam bhasmantam sariram Om krato smara, klie smara, krtam smara.
(Yajur Veda XL.15) Ya Hyang Widhi, Penguasa hidup, pada saat kematian ini semoga ia mengingat wijaksana suci Om, semoga ia mengingat Engkau Yang Maha Kuasa dan kekal abadi. Ingat pula kepada karmanya. Semoga ia mengetahui bahwa Atma adalah abadi dan badan ini akhirnya hancur menjadi abu.
Dapat pula menggunakan doa (mantram ) berikut ini:
a. Saat melihat atau mendengar orang meninggal: Om svargantu, moksantu, sunyantu, murcantu, Om ksama sampurna ya namah svaha. Ya Hyang Widhi, semogalah arwah almarhum mencapai sorga, manunggal dengan-Mu, mencapai keheningan tanpa suka-duka. Ampunilah ia, semoga sempurna atas Kemahakuasaan-Mu.
b. Saat mengunjungi orang sakit: Om sarva vighna sarva klesa, sarva lara roga vinasa ya namah. Ya Hyang Widhi, semoga segala halangan, segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan binasa oleh-Mu.
Doa Untuk Pembukaan Rapat (sidang) atau Seminar: Om sam gacchadhvam sam vadadhvam sam vo manamsi janatam, devo bhagam yatha purve samjanana upasate.
(Rg. Veda X.191.2) samano mantrah samitih samani samanam manah saha cittam esam, samanam mantram abhi mantraye vah samanena vo havisa juhomi.
(Rg Veda X.191.3)
samani va akutih samana hrdayani vah samanam astu vo mano yatha vah susahasati.
(Rg Veda X.191.4) Ya Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), semogalah pertemuan dan rapat ini mencapai satu kesepakatan. Semoga tercapai tujuan bersama, kesepakatan bersama satu dalam pikiran menuju stau tujuan.
Ya Hyang Widhi, Engkau canangkan satu tujuan, tujuan bersama kami sekalian, kami adakan pemujaan dengan persembahan bersama, agar tujuan kami satu, seia dan sekata.
Doa Untuk Menutup Suatu Pertemuan: Om dyauh santir antariksam santih prthiva santir apah santir osadhayah santih vanaspatayah santir visve devah santir brahma santih sarvam santih santir eva santih sa ma santir edhi.
(Yayur Veda XXXVI.17) Ya Hyang Widhi Yang Maha Kuasa, anugrahkanlah kedamaian di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, damai pada tumbuh-tumbuhan, damai pada pepohonan, damai bagi para Dewata, damailah Brahma, damailah alam semesta, semogalah kedamaian senantiasa datang pada kami.
Jnana Punia Semeton Nyoman Gede Suyasa (Bali Camp)
© Yayasan Bali Galang 2000 - 2003. All rights reserved.
Monday, January 12, 2009
Sri Wisnu
Wednesday, December 31, 2008
Urain Singkat Tentang Bhujangga Waisnawa
Dikutip Dari Wiki
Monday, September 22, 2008
Ida Bhujangga Rsi Anom Phalguna

Demi Titah Leluhur Kembali ke Kawitan
Sulit memang, kalau jalan hidup sudah diatur oleh Hyang Widhi, rencana yang sudah matang pun menjadi lain karena melanjutkan titah leluhur. Sebaliknya, kalau ditolak akan banyak masalah akan menimpa keluarga yang silih berganti berdatangan, termasuk ekonomi keluarga menjadi kacau balau. Apa salahnya melanjutkan kepanditan leluhur kalau sudah kehendak Tuhan.
Seperti pepatah mengatakan, setinggi-tingginya burung terbang, atau sejauh-jauhnya burung merantau guna mencari makan, pada akhirnya kembali jua ke sarangnya atau ke tanah kelahirannya. Begitulah kehidupan bagi orang yang merantau di tanah orang. Walaupun rencana matang sudah dilakukan. Tapi, kehendak leluhur atau Hyang Widhi memutuskan lain.
Begitu perjalanan seorang sulinggih dengan bhiseka Ida Bhujangga Rsi Anom Phalguna selama walaka. Awalnya, tutur Ida Rsi dengan nama walaka I Gede Putu Widnyana, S.Sos, tidak akan kembali ke tanah leluhurnya. Guna memantapkan rencana tersebut, demi perkembangan umat Hindu, akhirnya fakta bicara lain. Sulinggih dengan 3 anak ini pun tidak bisa memutuskan secara saklek kehendak apa akan direncakan di Irian. Pasalnya, datang surat dari Pulau Dewata, memberikan ketegasan yang tidak bisa ditolak.
“Pokokne, Bli harus pulang, tidak ada lain selain Bli yang melanjutkan trah leluhur untuk melanjutkan kepanditan di keluarga,” tutur Ida Rsi yang wawasan agamanya cukup luas.
Di satu sisi, rencana untuk membuat merajan, membangun rumah serta tanah untuk itu sudah siap, bahkan sudah akan siap menjadi warga Irian.
Sayangnya, demi titah Ida leluhur, Ida Rsi berprofesi PNS Badan Meteorologi Geofisika di Irian pun tidak bisa menolak untuk came back to campung. “Bagaimana ya, atas surat perintah dari Bali, Ida Rsi tidak bisa berkutik, harus dijalani, kalau tidak masalah akan menjadi lain di dalam keluarga,” kenang Ida Rsi yang mempunyai pikiran Hindu ke depan lebih padat dan lebih konsen dengan SDM berkualitas.
Sejatinya, perjalanan Ida Rsi kelahiran tahun 1 Januari 1958 sudah kenyang makan garam baik secara teori maupun praktek agama. Maka, tidak heran Ida Rsi dengan pendamping setia Ida Bhujangga Rsi Istri Hari Laksmi paham betul makna-makna upakara serta prakteknya. Ida Rsi bertubuh tegap pun sudah pengalaman menjalani kebrahmanan mulai dari menjadi pamangku di berbagai daerah di luar Bali.
Pertama kali, Ida dipercaya menjadi pamangku di Pura Jagatnatha Wira Bhakti, di Biak Irian Jaya tahun 1981 sampai 1994. selanjutnya, di Timor-Timur, juga mendapat kepercayaan mengemban tugas suci di Pura Girinata mulai tahun 1994 sampai tahun 1998. Guna memantapkan kualitas pamangkunya, sulinggih alumni STIA Yapis Irian Jaya ini pun pernah mengikuti penataran pamangku tingkat Nasional angkatan 11 di Unhi Denpasar tahun 1996. Akhirnya pindah ke kawitan (baca kembali ke tanah kelahiran) tahun 1998 serta tahun 2000 menjadi pangabih Ida Rsi Nabe.
Kembali Ida Rsi mendapat tugas mulia dan menjadi pamangku di Pura Jagatnatha Pemkab Jembrana tahun 2000 sampai tahun 2004. Akhirnya tahun 2004 memutuskan madiksa menjadi sulinggih. Kentadi Ida Rsi sudah madeg pandita, tapi masih menjadi PNS aktif, namun status Ida sebagai staf ahli ditempatkan di Dinas Ekbang Sosbud Pemkab Jembrana. Karena tenaga Ida Bhujangga Rsi sangat dibutuhkan guna memberikan berbagai pertimbangan secara moril dan spiritual di dalam membangun Pemkab Jembrana.
Yang sangat penting setelah perjalanan menjadi madeg pandita, Ida Rsi merasakan sekali tugas semakin berat. Kenapa? Karena Ida Rsi tidak mau sekadar malinggih, yang jelas Ida Rsi ingin memberikan pencerahan kepada umat Hindu agar menjadi pemeluk Hindu yang benar-benar paham dengan ajarannya. Tidak hanya menjadi pemeluk Hindu tapi tidak mengerti ajaran Hindu yang sebenarnya, apalagi hanya sibuk dengan upacara, sehingga muncul kesan Hindu itu rumit, biaya upacara mahal dan masalah krusial lainnya.
Kata Ida Bhujangga Rsi, tugas berat ini terus dijalani dengan dasar pilar agama yaitu satya, dharma, prema, shanti, dan ahimsa. Akhirnya dengan pilar pokok ini, segala tugas Ida Bhujangga berjalan dengan baik. Bahkan semakin sibuk mendapat tugas melayani umat dalam arti mulia Asal tahu saja, masih banyak yang harus diceritakan perjalanan Ida Bhujangga Rsi yang satu ini.
Apalagi Ida Rsi mempunyai ide-ide yang sangat cerdas, berwawasan Hindu ke depan agar umat Hindu tidak risau menjadi Hindu. Ketimbang pindah agama, lebih baik Ida Rsi banyak terjun ke kantong-kantong umat yang mengeluh dengan ritual yang rumit, ribet, walaupun sejatinya menjadi umat Hindu tidak serumit yang dibayangkan. Putu Patra
Diposting oleh baliaga
Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Dwi Putra Brahmanda
Sulinggih Rendah Hati Sarat Prestasi
Jalan hidup sulinggih yang satu ini, boleh dikatakan gemilang dalam prestasi, walaupun mengaku minim kualitas pendidika secara formal, dan tidak tamat SD. Tapi pendidikan formal yang tinggi tidak menjamin seseorang menggapai prestasi yang menonjol. Tapi sulinggih asal Buleleng ini ternyata gigih, rajin, tekun sehingga patut menjadi sosok teladan bahkan menjadi seorang guru dari orang yang bertitel. Berikut kisah Ida Pandita
Pendidikan formal yang minim, tak sepenuhnya menjadi kendala untuk memacu dan mengembangkan potensi diri. Seperti halnya Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Dwi Putra Brahmanda. Walaupun hanya sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar, itupun tidak sampai tamat. Selain dikenal ahli menulis lontar, juga dikenal sebagai dukun usadha. Berbagai prestasi gemilang berupa piagam penghargaan pernah diraihnya, Apa yang menjadikan Ida Pandita Nabe mampu mengukir berbagai prestasi itu? Inilah hasil penelusuran wartawan TBA.
Saat wartawan Bali Aga bertandang ke griya yang berlokasi di Banjar Wiguna, Desa Pelapuan, Busungbiu, Buleleng, nampak pria paruh baya sedang serius dengan aktivitasnya. Di setiap sudut dihiasi pot bunga berbagai jenis dan ukuran, sehingga mampu mempercantik griyanya.
Suara kicauan beberapa jenis burung yang tergantung rapi, menambah suasana semakin nyaman, sehingga rasanya ingin berlama-lama berada di sini. Mengetahui kami datang, serta merta Ida Pandita Mpu Nabe menghentikan aktivitasnya. Dengan senyum dan gaya bicaranya yang khas, Ida Pandita mulai bercerita.
“Tiang terlahir dari keluarga petani dengan ekonomi yang serba pas-pasan. Karenanya, tiang hanya sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar dan itupun nungkak (tidak sampai tamat-red),” ujarnya seraya menunjukkan foto-foto kenangannya saat walaka.
Latar belakang pendidikan yang sangat rendah, tak membuat sosok Ida Pandita Nabe minder, bahkan membuat harapannya pupus untuk belajar. Melainkan membuat semangatnya semakin berapi-api dan lebih giat menempa diri. “Walaupun hanya sempat mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, tak membuat tiang minder, namun memacu semangat lebih tekun belajar. Bahkan, sambil bekerja tiang sempatkan membawa buku, dan merapal apa yang sebelumnya tiang dapatkan,”jelas Ida Pandita Mapu Nabe dengan nada datar.
Berbekal pendidikan yang sangat minim, ternyata tak menjadi kendala bagi Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Dwi Putra Brahmanda yang bernama walaka I Wayan Nastra, untuk menggali dan mengembangkan potensi dalam dirinya. Berbekal pendidikan Sekolah Dasar dan itupun tidak sampai tamat, Ida Pandita Mpu Nabe, dengan semangat dan dedikasi tinggi terus berusaha menggali dan mengembangkn potensi yang dimiliki. Semangat, dan kerja keras, selama ini, ternyata tidak sia-sia. Berbagai piagam pernah diraihnya, baik dari pemerintah daerah hingga dari presiden Republik Indonesia di bidang Keluarga Berencana dan penghargaan lainnya.
Bahkan, tak sedikit yang bertitel sarjana belajar kepadanya. Ida Pandita Nabe juga sempat diekspos salah satu media, tentang keahliannya dalam menulis lontar. Semangat dan kerja kerasnya patut diacungi jempol serta dijadikan contoh. Semua itu tak lepas dari peran orang tuanya yang seorang guru yoga, serta penulis lontar cukup tersohor dan banyak memiliki murid.
“Ketegasan dan kedisiplinan orangtua, tiang jadikan pemacu lebih giat belajar. Berbagai ilmu tiang pelajari termasuk membaca dan menulis lontar. Banyak lontar telah tiang salin ke hurup latin. Bahkan, banyak yang belajar bahasa Bali di sini,” jelas suami I Nengah Sukanami yang kini mabisekha Ida Pandita Mpu Istri Nabe Daksa Dwi Putra Brahmanda serius.
Di samping itu, Ida Pandita yang dikenal ramah ini, juga memiliki kartu anggota pedalangan PDSI (Persatuan Dalang Seluruh Indonesia). Sepak terjang dan semangatnya itu, sering dijadikan panutan atau contoh masyarakat sekitar dan krama luar yang sering tangkil ke griya. Ida Pandita Mpu Nabe juga sering dimohon membuat awig-awig desa dalam bentuk lontar berbahasa Bali, dan menyalin lontar ke dalam bahasa latin.
Setelah orangtuanya meninggal, kemudian Ida Pandita Nabe harus meneruskan semua profesi ayahnya yang seorang guru yoga, balian usadha, dan pemangku. Beliau sering muput upacara Panca Yadnya. Maklum saat itu sulinggih sangat sedikit.
“Setelah orangtua meninggal, banyak krama datang dengan berbagai tujuan, dan sempat mengelak. Karena merasa tidak memiliki kemampuan dalam bidang itu. Namun akhirnya tiang sadar bahwa tugas tersebut harus dipikul dan dijalankan,” tegasnya.
Lebih lanjut ayah lima orang putra ini mengatakan, setelah dijalani, rasa khawatir itu sirna dan semua berjalan seperti air. Berbekal keyakinan dan keberanian, orang yang ditolong banyak yang sembuh, padahal hanya menggunakan Gayatari Mantra.
Guna meningkatkan pengetahuannya Ida Pandita memutuskan aguron-guron, (belajar-red) tepatnya di Griya Penarukan, Buleleng. Yang saat itu digembleng oleh Ida Pandita Mpu Nabe Dwi Tantra (almr), mulai dari tingkat Jro Mangku, Jro Gede, dan Jro Bawati.
Niatnya malinggih selalu gagal. Salah satu kendalanya, melihat kemampuan yang dimiliki, gurunya berkeinginan menjadikan Ida Pandita menjadi seorang Dalang Brahmana. Karena saking baktinya, permintaan itu pun dijalankannya dan berhasil dengan baik. Belum selesai tugas itu, ternyata Tuhan berkehendak lain dan Sang Nabe keburu dipanggil (amor ring acintya). Kemudian setelah Ida Pandita Mpu Nabe Sinuhun dari Griya Agung Bongkasa Badung, mengetahui kemampuannya, mendesak agar segera melinggih. Akhirnya pada tahun 2001, Ida Pandita membulatkan tekad melinggih dan ditapak oleh Ida Pandita Mpu Nabe Istri Made didampingi Ida Pandita Mpu Nabe Sinuhun. Dengan Bhiseka Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Dwi Putra Brahmanda.
Setelah melinggih, Ida Pandita tetap melaksanakan profesi sebagai dalang, penulis lontar dan ngemargiang tetambaan. Ida Pandita merupakan satu-satunya Dalang Brahmana di Buleleng. Namun demikian, Ida Pandita selalu melewatkan sisa hidupnya dengan penuh kesederhanaan. Andiawan
Diposting oleh baliaga
Ida Pandita Mpu Sadi Angga Yoga
Madiksa atas Kehendak Niskala
Kalau boleh ditolak, mungkin sudah lain ceritanya. Tapi perjalanan Pandita dari Kerambitan ini malah tak kuasa menolak kehendak niskala. Terbukti, berbagai penderitaan datang silih berganti. Akhirnya datang juga amanat dari nabe untuk segera madiksa.
Tidak semua orang mau begitu saja menjadi sulinggih atau menyucikan diri dengan jalan madiksa. Terkadang kalau mau ditolak, bisa jadi Pandita Mpu yang satu ini tidak akan menyandang predikat sang wiku. Inilah perjalanan panjang I Wayan Ada sebuah nama sederhana tapi penuh makna ketika masih walaka.
Sekarang, nama walaka sudah dilepas setelah ditapak oleh seorang nabe dari Griya Agung Klaci, Marga, Tabanan mabhiseka Pandita Mpu Daksa Samyoga. Semenjak tahun 2001, setelah digelar pawintenan trijati, sulinggih berpenampilan sederhana menyandang bhiseka Ida Pandita Mpu Sadi Angga Yoga. Lalu, bagaimana kisah perjalanan sulinggih yang mengaku sebagai petani selama walaka? Berikut kisahnya di dalam obrolan santai dengan BALI AGA di Griya Sading, Banjar Kukuh Kangin, Kerambitan, Tabanan.
“Tiang wantah pengalaman wit saking pamangku, dumun tiang petani. Sakewala, tan wenten kleteg jagi malinggih,” kata Pandita Mpu mengawali ceritanya. Dikatakan Pandita yang lama menjadi pamangku ini, memang menurut sastra setiap orang wajib menyucikan diri. Tapi, yang namanya wiku tidaklah gampang disandangnya. Perlu kesiapan lahir dan bathin. Apalagi Pandita Mpu satu putri ini mengaku tidak ada niat apalagi pengalaman kurang.
“Begitu juga pergaulan, sejak awal hanya sebagai pamangku di Pura Siwa Sading sejak tahun 1973. Hanya ini bekal satu-satunya untuk bisa menjadi sulinggih, ditambah tugas untuk muput pitra yadnya,” urai Pandita dengan penampilan lugu. Begitu juga perjalanan muput yadnya dijalani mulai tahun 1978, selanjutnya mawinten Jro Gede pada tahun 1993 sampai tahun 2001.
Tetapi, tandas Pandita yang mengaku pernah bekerja di Beringkit sebagai penjaga selama satu tahun, justru ada keanehan selama mencari nabe. Di dalam mencari nabe, banyak kendala. Awalnya, tutur sulinggih tamatan SR ini, ingin bernabe kepada seorang soroh ida bagus. Anehnya, selalu gagal. Setiap ida bagus yang dijadikan nabe (guru kerohanian-red) selalu meninggal. Perjalanan bernabe ini cukup lama.
Dengan kendala ini, diputuskan mencari nabe dari pasek saja,. akhirnya diambil keputusan kleteg kayun (keneh) ke Griya Agung Klaci ring Ida Pandita Mpu Daksa Samyoga.
“Yan tan iwang baan tiang narka, wenten matemu ring nabe salami seket (50 kali). Akhirnya Nabe memberikan keputusan untuk madiksa saja,” kenang sulinggih bertubuh mungil ini dengan santun. Saat itulah Pandita Mpu yang istrinya Ida Pandita Mpu IstriTirta lebar tahun 2006, ada niat untuk menolak. Tawaran ini diberi waktu selama tiga tahun.
Hanya saja, tutur Pandita Mpu yang tinggal di Griya Sading, Kukuh, Kerambitan, Tabanan ini, niat untuk menolak ini tidak bisa berjalan mulus. Ada saja sandungan yang menimpa diri Pandita. Termasuk di keluarga tidak sesuai dengan harapan. bahkan, Pandita sendiri merasakan hal-hal di luar logika.
“Tiang sering sungkan tan keni antuk, punapi mawinan. Kadirasa tan anut ring pangrasa, jeg sungkane tan pegat-pegat,” cerita Pandita dengan logat bahasa Bali kentalnya.
Pandita Mpu kelahiran tahun 1941 bercerita panjang kenapa mau malinggih sebagai madeg pandita. Perjalanan menjadi sulinggih pertama kaadegan sebagai pamangku, alasan lain karena beberapa kali kesakitan, kalau tidak salah sebanyak 4 kali. Jatuh karena kaseleo, sakit aneh beberapa kali dicarikan mantri kesehatan tak pernah sembuh. Akhirnya dicari jalan lain, dan sempat maluasan.
Semenjak malinggih, suasana di griya sedikit tenang. Selama malinggih, ada saja umat datang ke griya dengan berbagai tujuan. Ada yang nunas tirta, menanyakan dewasa ayu tentang upacara dan tujuan lainnya seperti mohon tuntunan malukat. Selama Pandita Istri masih ada, suasana griya menjadi hidup, karena sering ada aktivitas membuat banten berbagai upacara atas permohonan umat.
Di akhir obrolan santai dengan awak BALI AGA, dikatakan Pandita, umat yang tangkil bukan hanya dari sekitar griya saja, namun banyak penangkilan dari luar desanya. Bahkan umat dari jauh juga ada saja yang tangkil menanyakan masalah yadnya. Ayu Ratna
Diposting oleh baliaga
Ida Pandita Mpu Wiswa Rupa Bhiru Dhaksa
Sesungguhnya pendeta adalah pelayan umat yang tidak harus disanjung dan disembah. Sulinggih memiliki sifat seperti pasir yang menyerap air, apakah air tersebut kotor atau bersih, semuanya terserap. Namun pada akhirnya yang akan keluar adalah air yang bersih saja. Itulah inti seorang sulinggih yang bisa menyerap ilmu apapun, dan kemudian dipilah-pilah dan hanya yang baik yang dipakai. Kedatangan TBA menyasar daerah Buduk, sampailah di depan sebuah rumah yang bertuliskan Griya Agung Adhika Sari. Inilah Griya Ida Pandita Mpu Wiswa Rupa Bhiru Dhaksa dengan nama walaka I Gede Biakta.Pertama masuk terlihat suasana ramai di mana ibu-ibu sibuk dengan kegiatannya membuat banten. Sambutan hangat menyertai, dan kedatangan itu tepat dengan surya sewana yang merupakan rutinitas seorang sulinggih di pagi hari. Sambil menunggu sejenak di saren kajaterdengar suara burung menambah heningnya suasana griya. Tumpukan buku-buku di samping tempat duduk seakan menceritakan bahwa Ida Pandita gemar membaca.
Selang beberapa lama puja Ida Pandita usai dan terjadilah perbincangan parindikan Ida Pandita.
Masa kecilnya dijalani seperti biasa layaknya anak kecil pada umumnya. Masa sekolah menjadi masa menuntut ilmu baginya di mana kegemarannya dalam bidang bangunan mengantarkannya bersekolah di STM Bangunan Negeri Denpasar. Setelah menamatkan pendidikan, pekerjaan pun diraih.
“Sambil bekerja sekitar tahun 1976 tiang menjadi pragina yang belajar secara otodidak. Di sini memang keturunan pragina. Kemudian berkembang tahun 1987 mulai menjadi dalang. Dari dalang inilah kemudian meningkat nopeng,” jelas Ida Pandita.
Barulah tahun 2002 keinginannya untuk mendalami ajaran spiritual tumbuh dengan sendirinya. Kemudian berlanjut munggah menjadi bhawati tahun 2005. Semua dijalani secara bertahap hingga munggah menjadi Sri Empu pada bulan April 2006 bertepatan dengan Purnama Kadasa.
“Kita sadar dengan ajaran Catur Asrama, selama hidup menjadi yogi bagaimana caranya supaya dalam hidup menjalankan ajaran agama. Dengan malinggih merupakan penebusan dosa, dengan penyucian diri setiap hari. Selain itu dapat meningkatkan pengetahuan, sebab ada ilmu yang tidak bisa dipelajari sebelum malinggih di sana. Dan yang paling penting adalah mengabdikan diri pada umat dengan memberikan pelayanan dalam bidang spiritual,” ungkapnya.
Menurutnya, sesungguhnya pendeta adalah pelayan umat yang tidak harus disanjung dan disembah. Sulinggih memiliki sifat seperti pasir yang menyerap air, apakah air tersebut kotor atau bersih, semuanya diserap. Namun pada akhirnya yang akan keluar adalah air yang bersih saja. Itulah inti seorang sulinggih yang bisa menyerap ilmu apapaun, dan kemudian dipilah-pilah dan dipakai yang baik. (sadnyari). . . …………………Baca Edisi 32
Diposting oleh baliaga
Ida Peranda Gde Made Pengiasan
“Sebelum melinggih, tiang bergabung di Angkatan Laut. Selama menjalankan tugas, manis pahitnya kehidupan pernah tiang rasakan. Terutama saat bertugas di daerah konflik. Antara hidup dan mati, tak ada jurang pemisah tiang rasakan,” ujar ayah lima orang putri ini, mengaku bergabung di Angkatan Laut sejak tahun 1966.
Pedanda yang dikenal ramah ini lebih lanjut mengatakan, banyak hikmah yang bisa didapat selama bergabung di Angkatan Laut. Selain banyak pengalaman, juga dididik selalu berjalan di atas keberanian serta selalu disiplin baik waktu maupun hal-hal lain dalam berbagai hal. Cara itu kemudian diterapkan untuk mendidik anak-anaknya. Dengan cara itu, lanjut Ida Peranda, kini anak-anaknya mampu berdiri sendiri dan sukses.
“Tiang tidak bisa membekali anak-anak dengan harta benda, tetapi hanya ilmu yang bisa tiang bekali. Syukurlah sebelum pensiun, anak-anak berhasil menyelesaikan pendidikan di universitas, sehingga memiliki bekal untuk mencari kerja,” jelas Peranda didampingi Ida Peranda Istri Agung Rai yang saat walaka bernama Anak Agung Rai Murtini. Kesejahteraan anggota TNI pada waktu itu tidak seperti sekarang. Semua hidup dengan ekonomi serba pas-pasan, gaji hanya cukup 15 hari. Sehingga tak jarang gali lubang tutup lubang. Beruntung istri pintar mengatur, sehingga anak-anak bisa mengenyam pendidikan sampai di perguruan tinggi.
Lebih lanjut Ida Peranda mengungkapkan, selama bertugas tak pernah tergiur mengambil pekerjaan yang bertentangan dengan ajaran agama. Melainkan Peranda sering membantu orang-orang yang sedang kesusahan dengan tulus, tanpa pernah mengharapkan imbalan. Mungkin karena sering membantu dengan tulus-ikhlas, Peranda mengaku sering mendapat rezeki tak terduga, terutama pada saat membutuhkan.
“Karakter tiang memang keras dan tegas. Namun semua itu demi kebaikan dan kemajuan, sehingga selalu siap menghadapi berbagai pantangan dan tantangn hidup. Karakter tersebut tak lepas dari gemblengan selama bergabung di Angkatan Laut.,” kata Peranda berbadan agak subur ini menegaskan.
Kemudian tekad kerasnya ingin mengikuti jejak leluhurnya menjadi seorang sulinggih, permohonan untuk pensiun sempat ditolak hingga tiga kali oleh atasannya. Kemuduan setelah pensiun Peranda mulai melakukan pembelajaran di bidang agama, kepemangkuan, upacara dan lainnya dengan menjadi pengiring Ida Gde Ngurah, di Griya Ujung, Kesiman, Denpasar.
Dalam kurun waktu 11 tahun itu, selain menjadi pengiring juga sering mengikuti pelatihan kepemangkuan dan bebantenan. Selain itu, untuk mendukung profesinya Peranda mengoleksi berbagai macam buku dan lontar yang berkaitan dengan peningkatan pengetahuan keagamaan serta bebantenan.
Merasa sudah siap malinggih, akhirnya Peranda dengan segala kemampuan yang ada memutuskan malinggih pada tanggal 4 Agustus 2005. “Saat itu tiang disport dan didukung oleh Puri Agung Pemecutan, sehingga setiap ada kegiatan tiang selalu ngayah di Puri,” ujar Peranda dengan nada datar.
Dikutip Dari : Bali Age
Friday, September 12, 2008
Membongkar Kebohongan Mitos Maya Danawa
Galungan adalah hari raya besar keagamaan yang hingga kini masih dirayakan umat Hindu di Bali. Perayaan yang jatuh setiap Buda Kliwon wuku Dungulan ini merupakan peringatan terhadap menangnya dharma atas adharma. Dharma adalah suatu istilah dalam Hindu, jika diterjemahkan secara gampang ia bermakna kebenaran. Sebaliknya adharma adalah kebalikan dari dharma, yaitu aspek ketidakbenaran atau kejahatan. |
SUMBER
The History of Ubud
In the beginning Ubud itself was originally a small portion of land centred around Campuhan (meaning 'rivers meeting') and the puta (temple) Gunung Lebah. Yet Ubud, as it is known in the 21st century, spans many villages and is a kecamatan (district), and kelurahan (sub-district), as well as a desa (village).
In the West, history consists of tangible events and things that can be recorded. In Bali, history and life itself consists of the seen or conscious world (sekala) and the invisible or psychic realm (niskala) and Balinese are able to move between there two worlds with easy. One could not exist without the other. Therefore, some of the tales about to be told may seem fantastical to the visitor, but to the Ubudians it is a part of their history. Magic keris (daggers), cannibalistic giants and coin-sprouting trees may serve as allegories but they also stand on their own, as you shall soon see.
Almost all sources begin Ubud's history with the coming of the great Hindu Indian mystic sage, Rsi Markandya in the 8th century. A lontar (traditional palm leaf book) called the Markandya Purana describes how he spread Hinduism throughout Bali. He had been told to journey east from Mount Raung in Java and to convert the inhabitants of Bali to Hinduism. Bali had a reputation of being filled with dangerous spirits and many travellers never returned. walking through Java, he made his way to Bali with 800 followers. His goal was the holy mountain of Gunung Agung, where Besakih temple stands today. However, his followers succumbed to a cholera epidemic and, in fear for their health and safety, he took those who survived back to Java.
While in Java, he received a divine revelation that he was to return to Bali and bury panca dhatu (five precious metals which are buried under temples to give them more power) at the place where Besakih temple is today. he returned with four hundred followers. From there, he was drawn to a place in the central part of the island which was pulsing with light and energy: Campuhan, Ubud. Here, where two branches of the Wos River (named Lanang and Wadon, or male and female) meet in a confluence, he settled, meditated and built the temple Pura Gunung Lebah (Low Mountain temple). These two rivers swirl around each other as two naga (dragons or serpents) might do. The naga in the Balinese belief system symbolise all that sustains humanity: shelter, food and housing and, of course, spiritual sustenance. The water in the Western branch of the river is used for holy water in local temple festivals and the water in the Eastern branch is used for cleansing oneself; both physically and metaphysically.
Rsi Markandeya founded many temples along the Wos River. In the most northern part of his journey, he built the first (some claim) Hindu temple on the island: Pura Gunung Raung (later named Pura Agung) in the village of Taro. Just north of here in the village of Puakan (Pa-subak-an) the sage created the unique irrigation system for rice fields called subak and divided up the lands among the small populace at that time. He is also credited with the formation of the banjar (hamlet, subdivision of a village) and desa (village) systems.
The Balinese philosophy of Tri Hita Kirana, the relationship of humans with their environment (subakor rice fields), humans with each other (banjar or hamlet) and witht he Supreme Being (desa ot village, represented by the three main village temples) was first established here by Rsi Markandeya. Subsequent sages and priests have developed and expounded upon this but this was the foundation of Balinese Hinduism in its purest form, called appropriately Agama Tirta or 'Religion of Holy Water'.
Campuhan is indeed a special centre of power. People have been meditation here for centuries and bathing in its curative waters which spurt out of pancoran or fountains along the river banks. In 1961, this site was chosen as the place to form a religious body recognized by the Indonesian government and known today as Parisadha Hindu Dharma Indonesia, a symbolic tribute to Rsi Markandeya's founding of Hinduism in Bali over a millennium before.
The name Ubud is derived from the word 'ubad', meaning medicine, and refers to the myriad variety of healing plants found along this riverside and in the surrounding environs.
SUMBER
NYANYIAN/GITA UNTUK PIODALAN
Nyanyian yang akan kami persembahkan ini memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut:
Pertama, bukan sekedar lagu, tapi benar-benar lagu suci sebab merupakan mantra yang dilagukan, mengandung pujian kepada nama/gelar Tuhan seperti: Siwa, Ganesha, Durga, Saraswati, dan sebagainya. Jadi sambil bernyanyi para bhakta sekaligus melakukan Japa mantra dan juga merasakan getaran/vibrasi dari Dewa yang dilagukan tersebut. Untuk itu para bhakta tentunya bernyanyi dengan sungguh-sungguh, penuh perasaan dan rasa tulus seakan-akan Dewa yang bersangkutan hadir di depan para pemuja/penyanyi.
Kedua, lagu-lagu tersebut menggunakan Bahasa Sansekerta, yaitu bahasa yang digunakan dalam Veda, kitab suci agama Hindu. Sambil menyanyi, para umat dapat belajar mengenal kata-kata Sansekerta: cara pengucapan, arti/maknanya. Lambat laun umat tidak takut lagi belajar Mantra yang pada umumnya berbahasa Sansekerta.
Ketiga, lagu-lagu tersebut berirama seperti dangdut dan pop, sehingga akan memudahkan bagi umat untuk belajar dan menyanyikannya. Begitupula umat seperti anak-anak muda akan dengan mudah untuk tertarik menyanyikannya. Perlu kita ingat bahwa irama dangdut yang banyak disukai orang banyak memperoleh pengaruh dari lagu-lagu India.
Ke-empat, lebih universal dan sebagai sarana pemersatu. Tidak seperti kidung-kidung suci selama ini yang lebih banyak berbahasa Bali (halus) dan Jawa Kuno yang tentunya lebih sulit bagi suku-suku lain, sperti suku Jawa, Dayak, India dan sebagainya. Mereka tentu agak sukar merasakan getaran dari lagu tersebut. Orang Bali saja yang tinggal di luar Bali, terutama yang dibesarkan di luar Bali akan sulit untuk mempelajari dan mengartikan lagu atau kidung tersebut. Apalagi banyak yang mampu menyanyikan, tapi tidak tahu arti dan maknanya. Dengan lagu-lagu yang berbahasa Sansekerta ini, maka diharapkan menjadi sarana persatuan atau lagu standar bagi seluruh umat Hindu dimanapun dan suku apapun mereka.
Alangkah baiknya agar kita tidak cepat-cepat apriori dengan menuduh ke India-Indiaan dan sebagainya. Kita lupa bahwa budaya (Bali) khususnya seperti lukisan, bangunan, tarian, dan sebagainya banyak memperoleh pengaruh dari luar terutama sekali India dan Cina. Kita sering lupa bahwa berbagai karya kidung, kekawin, cerita, dsb yang didasarkan pada kisah Mahabharata dan Ramayana dan ingatlah pula bahwa agama Hindu berasal dari India ! Kita sering menolak beribadat dengan cara yang ”katanya” ke India-Indiaan, tapi kita sangat senang dengan film India dan dangdut. Maha Rsi Markandeya yang menanam panca datu pembangunan Pura Besakih konon berasal dari India.
Begitupula adanya tuduhan bahwa berbagai lagu dan mantra adalah milik suatu aliran atau sampradaya, apakah itu Krishna, Siwa, Sakti, dan sebagainya. Kita lupa bahwa ”aliran Hindu” Bali (Indonesia), juga merupakan salah satu sampradaya/aliran Hindu dengan ajaran Siwa Sidhanta (bersumber di India Selatan), sebagai inti yang bercampur dengan berbagai aliran/sampradaya seperti: Sakti/Tantra, Ganapati, Surya/Sora, Wisnu, dan sebagainnya. Di Dunia Hindu, orang Bali adalah minoritas, jadi di Dunia, Sampradaya Hindu di Bali adalah minoritas dan sementara saat ini kita sedang berada pada era Globalisasi !
Mudah-mudahan kita bisa terbuka dan berpikir jernih dan lebih mengedepankan ke Hinduan dari pada adat yang selalu berubah. Gandhi mengatakan hendaknya kita berenang di atas adat/budaya, bukan tenggelam didalamnya.
Berikut adalah Lagu-Lagu yang Dinyanyikan:
1. Lagu pendahuluan sebagai pemujaan kepada Dewa Ganesha/Betara Gana
OM WAKRATUNDA MAHA KAYA
SURYA KOTI SAMA PRABHA
NIRWIGUNA GURUME DEWA
SARVA KARYESHU SARWADA
(Artinya: Tuhan dalam wujud Dewa Ganesha / Betara Gana yang memiliki cahaya setara dengan sejuta bintang, semoga Engkau menghancurkan semua penghalang dan semoga semua karya berhasil)
3. Lagu ini ditujukan sebagai pujaan kepada Dewa Gana, yang biasanya dipuja pertama kali sebelum Dewa lainnya. Sebab Beliau adalah Dewa penghancur semua penghalang, peminpin para Gana (makhluk gaib) dan pendorong keberhasilan.
GANESHA SARANAM, SARANAM GANESHA )
SAISHA SARANAM SARANAM SAISHA
(Artinya: Sujud dan pasrahkan diri ke kaki Tuhan dalam wujud Dewa Ganesha)
4. Lagu ini ditujukan kepada Tuhan sebagai GURU
JAYA GURU OM KARA JAYA JAYA SAD GURU OM KARA OM
BRAHMA WISNU SADHA SIWA
HARA HARA HARA HARA MAHADEWA OM...
(Artinya: Jayalah ! Aksara suci OM, Jayalah Guru Tertinggi: Brahma, Wisnu dan Sadha Siwa. Hara dan Mahadewa adalah nama atau gelar dari Dewa Siwa).
5. Lagu persembahan kepada Dewi Durga (Uma, Parwati), Laksmi dan Saraswati. Manifestasi Tuhan sebagai kekuatan wanita yang penuh welas asih dan penganugerah.
JAYA DURGA LAKSMI SARASWATI SAI JAGANMATA
SAI JAGAN MATA MAM PAHI JAGANMATA
(Artinya: Jayalah Ibu Dewi Durga/Uma (penganugerah kasih sayang dan perlindungan), Dewi Laksmi (penganugerah kemakmuran) dan Dewi Saraswati (pengetahuan dan kesenian). Engkaulah penguasa Bhuwana/Dunia, Oh Ibu, lindungilah hamba !)
6. Lagu pujaan kepada Dewa SIWA
OM NAMA SIWA YA SIWA YA NAMA OM
SIWA SIWA HARA HARA HARA YA NAMA OM
HARA HARA SIWA SIWA SIWA YA NAMA OM
HARA HARA MAHADEWA
(Artinya: Om Nama Siwa ya adalah mantra utama untuk memuja (Japa mantra) Siwa. Hara dan Mahadewa adalah gelar dari Siwa sebagai Dewa tertinggi.)
SAMBO MAHADEWA SIWA SAMBO MAHADEWA
HARA HARA YA BAWA BAWA YA SIWA SIWA YA NAMO NAMO
OM NAMA SIWAYA OM ..... OM NAMA SIWAYA OM
(Artinya: sambut dan sujudlah kepada Dewa Siwa dan rapalkan mantra: Om Nama Siwa ya).
7. Lagu PENUTUP
OM SRI RAM JAY RAM JAY JAY RAM
SITA RAM SITA RAM SITA RAM
RADESYAM RADESYAM RADESYAM
Artinya: Jayalah Ram, (wujud Tuhan yang merupakan gabungan dari dua mantra suci Om Nama Siwa ya dan Om Namo Narayana ya).
Asal Muasal Penyebutan Nama “BALI”
Bisa disimpulkan bahwa nama Bali berasal dari kata BEBALI yg artinya SESAJEN. Ditegaskan lagi dalam kitab Ramayana yg disusun 1200SM: “Ada sebuah tempat ditimur Dawa Dwipa yg bernama Vali Dwipa, dimana disana Tuhan diberikan kesenangan oleh penduduknya berupa bebali (sesajen)â€Â. Vali Dwipa adalah sebutan untuk Pulau Vali yg kemudian berubah fonem menjadi Pulau Bali atau pulau sesajen. Tidak salah memang interpretasi ini melihat orang Bali yg memang tidak bisa lepas dari sesajen dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya.
SUMBER
Thursday, September 11, 2008
SUNYA DAN KE-SUNYATA-AN
Ketiga kata ini amat sering kita dengar, baca bahkan gunakan dalam konteks filsafat atau spiritual. Sunya misalnya; sering diterjemahkan sebagai 'kekosongan'. Kekosongan mengandung pengertian sifat atau kondisi yang abstrak, yang tidak dapat dipersamakan dengan nihil atau nol, oleh karena nol merupakan besaran kwantitatif; sedangkan 'kekosongan' lebih bersifat kwalitatif.
Suatu wadah bila tak berisi kita sebut 'kosong', atau tidak ada yang mengisinya. Jadi, kosong tidak mengandung pengertian kwantitatif atau numerikal. Kekosongan, merupakan abstraksi dari kondisi wadah yang kosong tersebut. Ia tidak bersifat atau berkwalitas, yang bersifat atau berkwalitas adalah isinya. Sebuah contoh dalam hal ini adalah 'gelas kosong', menurut persepsi umum ini bermakna tanpa isi; akan tetapi bagi para ilmuwam (fisikawan) tidak demikian. Gelas kosong bagi fisikawan berisi, namun isinya tak tampak oleh indrya pengelihatan kita yaitu udara atau gas. Gas tertentu berbau, jadi bisa dideteksi indrya penciuman, namun banyak gas yang tidak berbau sehingga tak terlihat dan tercium. Bahkan ada gas yang tak mudah dipengaruhi oleh suhu udara sekitarnya, sebaliknya ada yang amat mudah beradaptasi dengan udara sekitar. Gas jenis terakhir ini, tentu lebih sulit lagi kita deteksi keberadaannya dalam gelas kosong tadi.
Jadi, kita ketahui atau tidak sebetulnya gelas tersebut tidak 'kosong'. Gas di dalamnya mempunyai sifat, bobot, terkadang warna, bau, volume dan besaran lainnya. Jadi 'kekosongan' dalam hal ini, lebih tepat bila disebut 'kehampaan bahkan tanpa aktivitas mental'; inilah yang dimaksudkan dengan 'Sunya'. Bila demikian, jelas ia tak sama dengan sunyi atau sepi, seperti anggapan kita selama ini (secara tidak sadar).
Di dalam dunia IPTEK, telah diadakan serangkaian percobaan-percobaan mahal untuk mengetahui keistimewaan dari kehampaan. Percobaan ini membutuhkan kondisi ideal yang nir-gravitasi, sehingga mesti diadakan di luar angkasa (outer-space) di dalam laboratorium pesawat ulang-alik (space-shuttle). Apa yang ditemukan dari percobaan-percobaan tersebut? Secara garis besar diketahui beberapa prinsip dari sifat kondusif kehampaan terhadap:
* Pertumbuhan makhluk hidup; di mana makhluk hidup tumbuh dan berkembang lebih cepat dengan amat mengagumkan, dan
* Reaksi kimia menjadi lebih sempurna, yang tidak dapat dicapai di tempat manapun di bumi.
Dua hal penting itulah yang perlu kita garis bawahi dari hasil penelitian fisis dan khemis dalam kehampaan (tanpa bobot, substansi dan aktivitas). Pengkondisian di luar angkasa tentu amat ideal, dimana hampir tak (belum) mungkin dibuat oleh manusia kini. Dalam dunia spiritual, temuan IPTEK ini mengindikasikan hal yang kurang lebih serupa pada kita yaitu : melalui kehampaan dapat capai pengembangan batin yang mengagumkan dan bisa dikatakan mendekati sempurna.
Fenomena ini sebetulnya telah ditangkap, dipahami bahkan telah diperaktekan oleh para Rsi, pertapa dan Yogi dahulu. Beliau bertapa di gunung (tempat tinggi)1, yang dalam fisika diketahui bahwa semakin tinggi suatu tempat maka semakin kecil gravitasi bumi dan tekanan udara (mendekati kehampaan fisis hingga tahap tertentu). Rupanya beliau memahami kondisi ideal serupa ini. Dalam babad Arya Kenceng (Tegeh Kori), I Gusti Ketut Bendesa setelah bertapa-bhrata-Yoga-Samadhi di Gunung Batur, mendapat 'panugrahan' dari Bhatari Batur.
Nararya Kenceng dalam perjalanan pulang ke Majapahit singgah dan beryoga di Gunung Batukaru di mana beliau memperoleh petunjuk dari Sanghyang Embang untuk tidak kembali ke Majapahit (ketika itu Majapahit telah jatuh ke tangan pasukan muslim di bawah Sunan Giri Cs.), sehingga akhirnya beliau putuskan untuk menetap di Bali. Rsi Markandeya sebelum ke Bali, menerima wahyu di Gunung Raung; dan banyak lagi kisah-kisah pertapaan para suciwan dan leluhur yang mengambil tempat di gunung. Kiranya semua itu sekurangnya merupakan petunjuk dan sekaligus bukti betapa kondusifnya kondisi fisis yang mendekati kehampaan dalam peningkatan dan pengembangan spiritual.
Kisah-kisah atau mithologi kuno, yang seringkali kita remehkan dan anggap hanya dongeng sebelum tidur (bobok), ternyata menyimpan petunjuk penting dalam pelaksanaan Yoga-Samadhi. Satu hal yang tersirat dari penelitian luar angkasa tentang kehampaan adalah posisi kontelasi benda-benda langit yang sedemikian rupa sehingga amat ideal dan kondusif. Mengenai hal ini juga telah disadari oleh para pendahulu kita melalui pemilihan hari raya Nyepi, Çiwa-Ratri, Saraswati, Banyu-Pinaruh, Pagerwesi, Galungan Nadhi dan lain-lain, yang pada prinsipnya sangat dianjurkan sebagai hari baik untuk melaksanakan Yoga-Samadhi.
Bagi generasi muda kita, mungkin sekali ini dipandang sebagai takhyul yang hanya bikin seram saja. Ini dapat dimaklumi karena keterbatasan pemahaman dan terutama pengalaman mereka. Praktek Tapa-Bhrata-Yoga-Samadhi (Yoga Sadhana) amat membutuhkan ketekunan, arah dan tujuan yang jelas serta bimbingan seorang Ghuru. Ghuru, dapat memberi pandangan serta membagi pengalaman beliau pada kita. Pengalaman dalam pelaksanaan Yoga-Sadhana amatlah berharga dan tak akan pernah kita dengar di radio atau tonton di TV; ia diturunkan dari Ghuru kepada siswa (sisya) secara tradisional. Jadi, jelas ia merupakan pengetahuan khusus yang tidak dengan mudah diketahui oleh sembarang orang.
Di sinilah tampak permasalahan kita, yang timbul dari keterbatasan kita sebagai manusia. Kita amat cenderung keburu nafsu untuk memahami sesuatu, kemudian serta merta merasa faham padahal apa yang dimaksud jauh dari apa yang kita pahami. Bila pandangan kita terbentuk dengan cara seperti ini, maka inilah yang disebut 'pandangan keliru (micca-ditthi)'. Ada disebutkan 'keburu nafsu'; rupanya inilah yang menjadi masalah kita dalam memahami sesuatu. Apakah itu pengetahuan umum (keduniaan), maupun Agama. Kita amat 'mudah percaya' pada keterbatasan persepsi kita. Sunyata, berasal dari Sunya-atta; dimana tambahan 'atta' memberi pengkondisian dari 'sunya'. Sehingga 'sunyata' menyatakan kondisi dari 'sunya'.
Bila demikian, apakah 'Kesunyataan' itu? Sunyata yang berawalan 'ke', menggambarkan abstraksi dari Sunyata. Ia menggambarkan keberadaan dari Sunyata secara abstraktif yang sebetulnya sulit untuk digambarkan dengan kata, dan lebih bersifat pengalaman empiris metafisik (astral). Kesunyataan sebetulnya mesti kita pahami melalui perenungan dan pengalaman empiris, tanpa cara seperti itu kita hanya menerka-nerka dan menghayalkannya, dimana hal itu amat jauh dari 'Kesunyataan' seperti 'apa adanya'. Dalam dunia spiritual, banyak hal-hal yang amat sulit diungkapkan secara verbal maupun tulisan.
Apa yang kita dengar atau baca, hanyalah petunjuk jalan; tidak lebih dari itu. Suatu petunjuk tak pernah akan mengantar kita ke tujuan bila tanpa dijalani secara langsung, oleh karenanya amat beralasan bila Yoga juga dipersamakan dengan Marga (Magga-bhs.Pali). Penggambaran seperti yang kita coba ini pun sering menimbulkan salah pengertian (tafsir), karena menimbulkan kesan seolah bersinonim dengan 'kekosongan' bahkan lebih jauh lagi bisa menimbulkan pengertian yang identik dengan 'kenyataan' (realitas).
Ada pula yang mendekatinya melalui istilah 'Realitas-absolut'. Sebetulnya penyebutan adalah sah-sah saja mengingat keterbatas kata-kata dalam mengungkap sesuatu yang (hampir) tak mungkin diungkap dengan kata-kata.
Memang mesti kita akui betapa terbatasnya pemahaman kita yang antara lain disebabkan oleh karena kita cenderung keburu nafsu, mudah percaya dan suka ikut campur2. Kencendrungan tersebutlah yang membatasi kita, ia juga sering kali menimbulkan salah faham yang akhirnya menimbulkan pertikaian, permusuhan dan bahkan peperangan. Bila telah begini jadinya, tentu tak ada lagi yang disebut 'kedamaian'.
Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan kita akan ajaran, telah kita pahami dengan benar untuk kemudian dijadikan kemudi dalam mengarungi samudra 'Samsara'. Inilah inti dari ajaran para Orang Suci pendahulu kita. Setiap petunjuk yang beliau berikan membutuhkan suatu perenungan hingga kedalaman tertentu. Yang jelas dibutuhkan sekurang-kurangnya sedikit waktu untung menenangkan batin kita terlebih dahulu (heneng-bhs.Bali) sebelum dapat memandangnya dengan jernih, netral dan tanpa pretensi.
Sebagai ilustrasi dan penutup dari tulisan singkat ini, saya sunting bait yang amat populer dari Dharma-Sunya, karya dari Danghyang Nirartha sebagai berikut3:
"Ketika batin telah hening, ia semakin halus dan cemerlang,
kemudian menyusuplah ke alam sunya, alam maha sempurna yang tak terlukiskan,
pikiran bagai melingkupi dan menyusupi seluruh semesta dan tida terbatas,
demikianlah batin Sang Wiku ketika telah lebur di alam Samadhi".
Semoga tulisan ini cukup layak untuk sekedar menambah koleksi pandangan dan dijadikan bahan perenungan ke dalam batin4. Semoga setiap makhluk mencapai pandangan Sunyata dan memcapai Kesunyataan secepatnya.
Denpasar, 20 Pebruari 1999.
anatta-bali
----------------------------------------------------------------------------------------
1 Hyang Çiwa Natharaja, yang disebutkan sebagai pencetus sistem Yoga, bertapa di puncak Gunung Kailesa (peg.Himalaya) pada kira-kira 7000 tahun yang lalu (sumbernya saya lupa).
2 petunjuk dari seorang Wiku pada bulan Januari 1998.
3 disunting dari Ida Bagus Gde Agastya, Nyepi: Surya dan Sunya - Warta Hindu Dharma No.373, April 1998.
4 dalam Asthangga-Yoga disebut 'Pratyahara'.
Sumber
Pura Pulaki, Tempat Suci Peninggalan Prasejarah
Sulit ditampik, lingkungan Pura Pulaki adalah sebuah kawasan suci yang bisa disebut sangat sempurna. Selain memiliki pemandangan alam menakjubkan, aura religius dan kesucian yang berpendar di kawasan pura dan sekitarnya akan terasa jelas, seakan masuk di sela pori-pori kulit. Sebagian umat yang sempat sembahyang ke pura itu bahkan kerap mengaku bulu tipis di lehernya sesekali akan tegak. Mungkin karena takjub yang berlebihan pada keindahan alamnya atau amat terkesan pada aura religius yang dirasakannya.
PURA Pulaki berdiri di atas tebing berbatu yang langsung menghadap ke laut. Di latar belakangnya terbentang bukit terjal yang berbatu yang hanya sekali-sekali saja tampak hijau saat musim hujan. Pura ini tampak berwibawa, teguh dan agung, justru karena berdiri di tempat yang teramat sulit. Apalagi pemandangan yang ditampilkan begitu menawan. Jika berdiri di dalam pura lalu memandang ke depan, bukan hanya laut yang bakal tampak namun juga segugus bukit kecil di sebelah baratnya yang berbentuk tanjung. Kera-kera yang hidup di sekitar pura ini, meski terkesan galak, juga menciptakan daya tarik tersendiri.
Pura Pulaki terletak di Desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, Buleleng, sekitar 53 kilometer di sebelah barat kota Singaraja. Pura ini terletak di pinggir jalan raya jurusan Singaraja-Gilimanuk, sehingga umat Hindu akan selalu singgah untuk bersembahyang jika kebetulan lewat dari Gilimanuk ke Singaraja atau sebaliknya. Namun jika ingin bersembahyang secara beramai-ramai, umat bisa datang saat digelar rangkaian piodalan yang dimulai pada Purnama Sasih Kapat. Sejarah Pura Pulaki memang tak bisa dijelaskan secara tepat. Namun, dari berbagai potongan data yang tertinggal, sejarah pura itu setidaknya bisa dirunut dari zaman prasejarah.
Ketua Kelompok Pengkajian Budaya Bali Utara Drs. I Gusti Ketut Simba mengatakan, jika mengacu pada sistem kepercayaan yang umum berlaku di Nusantara -- sejak zaman prasejarah gunung senantiasa dianggap tempat suci dan dijadikan stana para dewa dan tempat suci para roh nenek moyang -- maka diperkirakan Pura Pulaki sudah berdiri sejak zaman prasejarah. Hal ini merunut pada konsep pemujaan Dewa Gunung, yang merupakan satu ciri masyarakat prasejarah. Sebagai sarana tempat pemujaan biasanya dibuat tempat pemujaan berundak-undak. Semakin tinggi undakannya, maka nilai kesuciannya semakin tinggi. "Seperti Pura-pura di deretan pegunungan dari barat ke timur di Pulau Bali ini," kata Simba.
Di kawasan Pura Pulaki, di sekitar Pura Melanting, sekitar 1987 ditemukan beberapa alat perkakas yang dibuat dari batu, antara lain berbentuk batu picisan, berbentuk kapak dan alat-alat lain. Berdasar hal itu, dan dilihat dari tata letak dan struktur pura, maka dapat diduga latar belakang pendirian Pura Pulaki awalnya berkaitan dengan sarana pemujaan masyarakat prasejarah yang berbentuk bangunan berundak.
Di sisi lain, dilihat dari letak Pura Pulaki yang terletak di Teluk Pulaki dan memiliki banyak sumber mata air tawar, maka kawasan ini diduga sudah didatangi manusia sejak berabad-abad lalu. Kawasan Pulaki menjadi cukup ramai dikunjungi oleh perahu dagang yang memerlukan air sebagai bahan yang sangat diperlukan dalam pelayaran menuju ke Jawa maupun ke Maluku. Bahkan, kemungkinannya pada waktu itu sudah ada berlaku perdagangan dalam bentuk barter. Barang yang kemungkinan dihasilkan dari kawasan Pulaki adalah gula dari nira lontar. Ini didasarkan hingga kini masih ditemukan tanaman lontar di sepanjang pantai dari Gilimanuk ke timur, termasuk Pulaki.
Dari uraian itu, kata Simba, dapat diduga Pulaki sudah ada sejak zaman prasejarah, baik berhubungan dengan tempat suci, maupun sebagai tempat aktivitas lainnya. Hal ini berlanjut hingga peristiwa penyerangan Bali oleh Majapahit tahun 1343 Masehi. Dalam buku ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang disusun Ketut Ginarsa tertulis bahwa pasukan Gajah Mada turun di Jembrana lalu berbaris menuju desa-desa pedalaman, seperti Pegametan, Pulaki dan Wangaya.
Menurut Simba, Pulaki juga pernah dijadikan pusat pengembangan agama Hindu sekte Waisnawa sekitar 1380 Masehi seperti tertera dalam buku ''Bhuwana Tatwa Maharesi Markandeya'' susunan Ketut Ginarsa. Data lain yang menyebut tentang Pulaki terdapat juga dalam buku ''Dwijendra Tatwa'' karangan Gusti Bagus Sugriwa. Di situ ada tertulis, "Baiklah adikku, diam di sini saja, bersama-sama dengan putri kita Ni Swabawa. Ia sudah suci menjadi Batara Dalem Melanting dan adinda boleh menjadi Batara Dalem Ketut yang akan dijunjung dan disembah orang-orang di sini yang akan kanda pralinakan agar tak kelihatan oleh manusia biasa. Semua menjadi orang halus. Daerah desa ini kemudian bernama Pulaki."
Data lain tentang Pulaki adalah ditemukannya potongan candi yang bentuknya seperti candi yang ada di Kerajaan Kediri. Ditemukan di Pura Belatungan tahun 1987. Dari data itu, maka kesimpulannya keberadaan Pura Pulaki sebagai suatu tempat suci sudah ada sejak zaman prasejarah dan menghilang setelah kehadiran Dang Hyang Nirarta dengan peristiwa dipralinakannya Pura Pulaki sekitar 1489 Masehi. Keberadaan Pura Pulaki tanpa penghuni secara sekala berlangsung cukup lama. Pura Pulaki menghilang dari penglihatan sekala dan daerah ini praktis kosong sejak 1489 sampai sekitar tahun 1920 atau selama sekitar 431 tahun. Namun sebelum itu, dari kurun waktu zaman prasejarah sampai dengan kehadiran Ida Batara Dang Hyang Nirarta tahun 1489, Pura Pulaki masih tetap sebagai tempat pemujaan, baik yang dilaksanakan orang prasejarah, orang Baliaga dengan Sekte Waisnawa yang dikembangkan Rsi Markandeya dan orang pengikut Tri Sakti dengan simbol tiga kuntum bunga teratai yang berwarna merah, hitam dan putih yang dipetik Dang Hyang Nirarta dari kolam yang diperoleh dalam perut naga di Pulaki.
Dipugar
Suatu daerah yang tak dihuni selama ini, sudah pasti menjadi hutan belantara dan hanya dihuni binatang buas, babi hutan, harimau, banteng dan lain-lainnya. Kendati begitu, menurut Simba, masyarakat Desa Kalisada dan beberapa desa di sekitarnya masih tetap setia ngaturang bhakti kepada Batara di Pulaki dengan naik perahu dari Kalisada. Namun saat itu Pura-pura itu sudah tak ada lagi, sehingga pemujaannya dilakukan pada batu-batu yang ada di sekitar Pura Pulaki yang lokasinya berada pada tempat sekarang ini.
Untuk itu, Simba menduga Pura Pulaki sebenarnya berada di dalam hutan, bukan di tempat yang sekarang ini. Lokasi pura yang sekarang diperkirakan sebagai tempat pengayatan karena warga tak berani masuk ke dalam hutan. "Karena tempat ini sudah dihuni binatang buas, sehingga tak mungkin masuk ke pedalaman," katanya.
Tahun 1920 Pulaki mulai dibuka yang ditandai dengan disewakannya tempat ini oleh pemerintah kolonial Belanda kepada orang Cina bernama Ang Tek What. Kawasan itu kemudian dikembalikan sekitar tahun 1950 yang selanjutnya dilakukan pemugaran-pemugaran terhadap tempat suci di kawasan itu. Pemugaran Pura Pulaki dan pesanakannya dilakukan setelah tahun 1950.
Menurut Simba, Pura Pulaki dan pesanakan, seperti Pura Pabean, Pura Kerta Kawat, Pura Melanting, Pura Belatungan, Pura Puncak Manik dan Pura Pemuteran, tak bisa dipisahkan. Dilihat dari 7 lokasi Pura-pura tersebut dan sesuai konsep Hindu hal itu termasuk konsep sapta loka, yakni konsep tentang sapta patala, yakni 7 lapisan alam semesta.
* adnyana ole
Pulaki dan Sumsum Tulang Itik
SEJARAH Pura Pulaki tak bisa dilepaskan dari tempat-tempat pemujaan lainnya di Bali. Menurut Ketua Kelompok Pengkajian Budaya Bali Utara Drs. I Gusti Ketut Simba, Buleleng terletak di antara gunung dan laut. Karena jarak pegunungan dan laut sangat dekat maka datarannya yang dimiliki sangat sempit. Ini disebut wilayah nyegara-gunung, suatu daerah yang penuh dengan pusat spiritual dan tempat pemujaan, baik di gunung maupun di tepi laut.
Ketut Simba menjelaskan, bentuk Pulau Bali itu tak ubahnya seperti seekor itik. Kepala menghadap ke barat berhadapan dengan Jawa, punggung ke utara berhadapan dengan laut Jawa dan Laut Bali, ekornya ke timur menghadap ke Lombok. Sementara leher, tembolok, dada, perut, berhadapan dengan Samudera Hindia. Di bagian punggung Pulau Bali terbentang sederetan daerah pegunungan dari barat, daerah Desa Cekik hingga ke timur di Lempuyang Karangasem sehingga Bali seolah dibelah menjadi dua. Bali Selatan dan Denbukit. Denbukit juga dibagi dua, di mana bagian barat biasa disebut dauh enjung dan dangin enjung, di mana batasnya adalah enjung sanghyang.
Ekor itik ini punya makna bahwa Bali punya nilai kesucian yang sangat tinggi. Karena itik binatang suci, terbukti jika orang membikin banten (aturan suci), terutama suci gede, maka binatang ini adalah sarana yang sangat menentukan kesucian banten tersebut. Begitu pula pegunungan yang memanjang dari barat ke timur adalah punggung itik, di mana pada tulang punggung mengandung sumsum dan unsur kehidupan pada dimensi spiritual. "Pada tempat inilah ditemukan garis kundalini," katanya.
Pura-pura yang ditemukan di sepanjang pantai antara lain Pura Bakungan, Pura Teluk Terima, Labuhan Lalang, Pura Gede Pengastulan, Labuhan Aji, Celuk Agung, Penimbangan, Beji, Puradalem Puri, Gambur Anglayang, Kerta Negara Mas, Pojok Batu, Pura Pulaki dengan pesanakannya dan pura lainnya. Sedangkan di pegunungan dari barat ke timur ada Pura Pucak Manik, Pura Bujangga, Asah Danu, Batukaru, Tamblingan, Puncak Mangu, Bukit Sinunggal, Indrakila, Penulisan, Besakih, Gunung Andakasa, Lempuyang dan lain-lain.
Nah, Pura Pulaki yang dibangun pada tempat perpaduan antara daerah pegunungan dan laut atau teluk. Maka tata letak, struktur dan lingkungan Pura Pulaki ini ditemukan unsur antara segara dan gunung yang menyatu.
Makna Simbolik pada Padmasana
Oleh IB Heri J
TUHAN Yang Maha Esa (Tunggal) atau Hyang Widhi Wasa dipuja oleh umat Hindu melalui beberapa media bangunan suci yang disebut tempat ibadah seperti; Kuil, Candi, Miru, Sanggah ( merajan ) dan "Padmasana." Padmasana adalah bangunan suci dalam pura untuk tempat sembahyang kepada Tuhan Yang Esa dalam aspeknya sebagai Siwa. Dalam tulisan ini akan dijelaskan beberapa makna simbolik pada bangunan Padmasana.
Untuk mengetahui makna simbolik dari Padmasana ini, kita meneliti satu persatu hiasan lukisan yang ada pada bangunan padmasana. Kata Padmasana berasal dari kata Padma artinya bungai teratai dan asana artinya sikap duduk, dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata Padmasana berarti; tahta, singgasana, kursi kerajaan. Jadi Padmasana tempat duduk yang menyerupai kursi dari bunga teratai. Mengapa dari bunga teratai? Menurut konsep ajaran Hindu bunga teratai memiliki beberapa keistimewaan antara lain pertama; daun bunga teratai hampir selalu terdiri delapan lembar, tepat sekali dipergunakan sibagai simbol Astaiswarya (delapan dewa yang menguasai delapan penjuru mata angin). Kedua, bunga teratai bentuk mahkotanya berbentuk bulat merupakan simbol Siwa. Ketiga, bunga teratai tumbuh dan berkembang di atas air dengan akarnya didalam lumpur dan bunganya di udara, bunga teratai hidup dalam tiga lapisan yaitu lapisan lumpur, lapisan air, dan lapisan udara. Keempat, bunga padma juga disebut pangkaja yang artinya lahir atau tumbuh dari dalam lumpur. Jadi bunga padma adalah bunga yang bersifat magis yang selalu dikaitkan dengan linggih atau stana Hyang Widhi serta merupakan bunga yang dianggap mempunyai kesucian yang lebih dari bunga yang lain. Bungai teratai ada yang serumpun seperti; bunga kumuda (tunjung) dan Utpala yaitu tunjung yang jenis lebih kecil yang juga mempunyai macam-macam warna dan yang terkenal adalah tunjung biru (nilautpala). Namun jenis bunga tunjung ini jumlah daunnya lebih dari delapan, dan mahkotanya tidak bulat.
Padmasana dalam pengertian umum di masyarakat menyebutkan adalah sebuah bangunan yang puncaknya berbentuk kursi dan dibelakangnya berisi lukisan burung angsa, burung Garuda, di tengah-tengah bangunan pada setiap sudut ada patung astadikpalaka ( dewa penguasa delapan penjuru mata angin ), serta dasar bangunan memakai lukisan badawangnala dililit oleh dua ekor naga. Bangunan Padmasana yang lengkap di kelilingi oleh kolam sebagai simbol laut Ksira Arnawa, Padmasana simbol gunung Mandara ( baca Bab V Adiparwa).
Lukisan burung Garuda yang menghiasi belakang bangunan Padmasana memiliki makna pertama ; burung Garuda adalah burung yang perkasa di antara jenis burung dan telah berjasa menyelamatkan Amerta (A artinya tidak, mert artinya mati. Amertha adalah air suci kehidupan) dari kekuasaan para raksasa pada waktu pemutaran gunung Mandara di laut Ksirarnawa . Oleh karena itu kalimat yang tepat diucapkan pada saat selesai sembahyang adalah mohon Amerta ( hidup) bukan mohon Merta ( mati). Kedua, burung Garuda berhasil membebaskan keterikatan / perbudayaan duniawi ibunya. (baca Bab V Adiparwa). Ketiga, Burung Garuda merupakan kendaraan (wahana) Dewa Wisnu aspek Tuhan sebagai pemelihara dan penegak kebenaran (Dharma).
Lukisan Angsa dibelakang Padmasana memiliki simbolik, pertama, burung angsa adalah kendaraan (wahana ) Dewi Saraswati, sakti Dewa Brahma aspek Tuhan sebagai Pencipta alam semesta beserta segala isinya. Kedua, angsa simbolik dari ketenangan, warna bulunya yang putih simbol kebersihan dan kesucian. Ketiga,burung angsa dalam memilih makanan penuh dengan ketelitian, walaupun mulutnya masuk ke lumpur yang busuk, tetapi bukan lumpur yang dimakan, melainkan hanya makanan yang patut menjadi makanan yang masuk kemulutnya, sebab itu angsa simbolik kebijaksanaan memilih. Keempat, burung angsa simbol kewaspadaan yang tinggi, karena baik siang ataupun malam seolah-olah tidak pernah tidur. Karena angsa memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi, maka sering kita melihat seseorang disamping atau di depan rumahnya memelihara angsa dipakai sebagai penjaga rumah. Kalau ada seseorang masuk ke halaman rumah lebih-lebih malam hari angsa itu tentu berbunyi ribut.
Astadikpalaka adalah adalah arca dewa yang menguasai delapan penjuru arah mata angin biasanya ditempatkan di madya (tengah-tengah) bangunan Padmasana. Adapun arca Astadikpalaka itu antara lain : 1) Iswara berkedudukan di Timur dengan busana warna putih senjata Bajra. 2) Mahesora berkedudukan di tenggara busana dadu (merah muda) senjata Dupa. 3) Brahma di Selatan warna busana merah senjata Gada. 4) Rudra di Barat daya warna Jingga senjata Moksala. 5) Mahadewa di Barat warna kuning senjata Nagapasa. 6) Sangkara di Barat Laut warna hijau senjata Angkus. 7) Wisnu di Utara warna hitam senjata cakra dan 8) Sambhu di timur laut warna biru senjata Trisula.Sebagai titik sentralnya adalah Siwa di tengah warna Panca warna senjata Padma.
Makna Simbolik pada Padmasana (Bagian 2)
SEBAGAIMANA pada bagian 1 tulisan ini telah disebutkan bahwa di belakang bangunan padmasana ada lukisan burung Garuda dan angsa, dan pada bagian dasarnya ada lukisan Naga yang melilit bedawangnala (lukisan kura-kura bermoncong api) kadang-kadang dilukiskan satu ekor dan ada juga dua ekor naga, dan bahkan sering pula kita melihat pada bagian atas singhasana yang berujud kursi, dimana pada dinding samping kursinya digambarkan berupa dua ekor naga Taksaka bersayap (simbol udara). Bedawangnala adalah simbol panas / api di dalam bumi, ilmu pengetahuan modern menyebutnya dengan nama magma.
Sumber Siwagama dan Sri Purana Tattwa ada disebutkan bahwa setelah bumi diciptakan oleh Tuhan lengkap dengan manusia dan segala isinya, maka pada suatu saat terjadi bencana, dimana tumbuh-tumbuhan mati, air tercemar dan tidak berkasiat, udara yang dihidup oleh mahluk hidup mengandung penyakit, maka Sanghyang Trimurti turun kedunia menyelamatkan manusia. Brahma masuk kedalam perut bumi menjadi Naga Anantabhoga, Wisnu terjun ke samudra menjadi naga Basuki serta Iswara terbang ke udara menjadi naga Taksaka. Adapun tugas masing-masing adalah menyelaraskan dan mengharmoniskan unsur-unsur tanah ( bumi), air dan udara. Simbolik dari cerita itu dapat disimpulkan bahwa bedawangnala atau magma itu dibungkus atau dililit oleh Anantabhoga yaitu kulit bumi, oleh naga Basuki yaitu samudra dan sungai-sungainya serta oleh naga Taksaka yaitu udara. Bilamana unsur-unsur pembentuk alam semesta (makrokosmos) dan badan manusia (mikrokosmos) seperti air, panas, bumi (zat padat), udara dan ether berjalan sesuai dengan hukum alam atau Rta, maka dapat dipastikan kehidupan mahluk dan segala isinya di muka bumi menjadi harmonis. Hubungan manusia dengan Tuhan di bumi diwujudkan dengan membuat Parhyangan (tempat suci) untuk memohon kemakmuran dan kesejahteraan.
Padmasana sebagai bangunan yang suci sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia bahkan bangunan itu dipandang bukan saja benda mati, melainkan sebagai benda yang memiliki kekuatan spiritual, karena di dalam bangunan itu telah diisi dengan sarana upacara yang disebut Panca Dhatu. Panca Dhatu adalah lima jenis unsur-unsur logam (Panca dhatu) yaitu: emas, perak, tembaga, timah dan besi. Kelima unsur logam ini dipakai sebagai sarana upacara yang dipergunakan untuk membuat upacara pedagingan atau sarana upacara untuk menghadirkan kekuatan spiritual pada bangunan. Sehingga bangunan tersebut memiliki daya hidup/kekuatan spiritual yang dapat memberikan pengaruh kejiwaan terhadap yang umat Hindu.
Selain mengandung simbol mistis, Panca Dhatu juga terkandung sebuah penerapan pengetahuan ilmiah yang bersifat teknis teologis yaitu sebagai penangkal petir. Alasan logisnya adalah Padmasana merupakan bangunan yang paling tinggi di antara bangunan lainnya, dengan demikian mempunyai kemungkinan yang paling besar untuk disambar petir. Sehubungan dengan itu, maka diperlukan pengamanan yang berupa instalasi penangkal petir. Hal ini sangat penting menyangkut keamanan, kenyamanan dan keselamatan umat dalam melakukan sembahyang. Pemasangan instalasi penangkal petir bukan berarti tidak akan disambar petir, petir tetap saja akan menyambar, namun sambaran kilat itu akan segera disalurkan ke tanah, sehingga listrik alam yang bermuatan tinggi itu segera dapat dinetralkan dalam tanah, sehingga bangunan dan segala isinya menjadi terlindung.
Pemasangan instalasi penangkal petir pada bangunan Padmasana dilakukan pertama kali oleh Rsi Markandeya (Rsi sebutan orang suci Hindu) yaitu dengan menanam Panca Dhatu (lima jenis logam) pada tempat dimana Pura Besakih sekarang berdiri. Pedagingan Panca Dhatu pada Padmasana yang berukuran besar ditanam secara vertikal yaitu dasar, tengah dan puncak. Menurut Adri (1968) sebagaimana yang dikutip oleh Donder (2001 : 97-98) menyebutkan pedagingan pada Puncak bangunan seperti Meru, Padmasana dan Sanggar Agung terdiri dari : 1) Sampian emas (padma emas) atau slaka
